Ah… Ternyata Masih Ada Sekolah Laskar Pelangi di Lombok Tengah

Ah… Ternyata Masih Ada Sekolah Laskar Pelangi di Lombok Tengah

Lomboktvnews.com (Lombok Tengah) – Tahun 2005, sebuah novel Andrea Hirata berjudul Laskar Pelangi terbit. Berkisah tentang kegigihan dan semangat 10 sahabat dalam menempuh dunia pendidikan. Dimulai dari sebuah SD Muhammadiyah di Belitung yang hampir kondisinya memprihatinkan, terisolir, tak pernah dikunjungi pejabat bahkan penjual kaligrafi. Kalaupun dikunjungi pejabat, itu hanya dari dinas kesehatan yang datang untuk menyemprotkan DDT, demikian tergambar dalam cerita novel tersebut. Bahkan dikisahkan, Sekolah tersebut terancam dibubarkan dihari pertama penerimaan murid baru karena kurang dari 10 orang siswa sampai Ibu Mus (tokoh guru) bertekad mencari siswa ke 10. Dari sinilah, api, semangat, duka, pedih dan bla bla nya dimulai dari tokoh cerita bernama Ikal yang membuat emosi pembaca di bawa ke dalam ragam dimensi.
Laskar Pelangi selayaknya hanya bagian masa lalu yang tertuang dalam kisah fiksi. Terjadi puluhan tahun silam yang selayaknya sudah tidak ada lagi di jaman sekarang. Meski akhirnya, paradigma tersebut ternyata terbantahkan dengan sebuah Sekolah Dasar Negeri di Pringgarata, Lombok Tengah. Sebuah sekolah negeri yang dibiayai oleh Negara namun kondisi sekolahnya jauh dari sekolah sekolah yang lain. Sekolah yang plafonnya tinggal menunggu waktu jatuh karena didorong air hujan. Atap yang sudah terlalu tua untuk dibiarkan tak cukup kuat menahan hujan. Lantai semen berkotak kotak serupa kamuflase dari ketidakmampuan. Konon, sekolah negeri itu kalah bersaing dengan sekolah sekolah lain sehingga siswa yang didapatkan pun hanyalah sisa sisa dari sekolah lain dan juga merupakan usaha jemput bola yang dilakukan oleh para pendidik nya, bahkan mirisnya, tahun kemarin saat penerimaan siswa baru, jumlah siswa yang mendaftar kurang dari Laskar Pelangi. Ya. Hanya 7 orang siswa. Total siswanya hanyalah 33 orang, jumlah yang sama dengan jumlah siswa satu kelas di sekolah lain.
Kondisi fisik bangunan tentu menjadi salah satu faktor ortu mempertimbangkan anaknya sekolah di sana. Karena di tempat tersebut ada 3 sekolah lain; 1 sekolah Negeri dan 2 Sekolah Swasta (Madrasah) yang jauh lebih layak dibandingkan sekolah ini.
Waktu telah berbeda jauh. SDN Muhammadiyah Belitung bahkan kini sudah menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi. Orang orang berkunjung untuk mengenang setiap adegan demi adegan para laskar pelangi menimba ilmu di sana. Seharusnya ia hanyalah kenangan. Namun, siapa sangka, di belahan lain Gumi Paer Sasak, di sebuah kabupaten yang mendunia dengan Bandara Internasionalnya dan Sirkuit Moto GP nya. Bahkan bangunan Kantor Bupatinya termegah di Lombok, SDN Pringgarata sedang asyik bergelut dengan hujan yang saat ini datangnya sering tak tentu. Harap-harap cemas saat mengajar siswa tak terhantam plafon yang hendak jatuh. Harap harap Cemas menunggu akhir tahun pelajaran, apakah akan ada siswa pengganti lagi. Sementara, Pengawas Sekolah tahun ini konon belum pernah berkunjung. Dinas hanya berkunjung sekali, menghidupkan harapan, harapan 10 orang Tenaga Pendidik yang masih menempa kenyataan. Ah, mungkin tahun depan ada anggaran untuk perbaikan, lirih mereka diam diam. Menjadi sajak hujan akhir tahun kiriman Belitung belasan tahun lalu. Singgah sebentar di hotel-hotel Kuta dan Gedung Mewah IPDN seberang istana Kepala Daerah yang nampak mewah membelah harapan harapan itu.(Shd)

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )