Dampak Menipisnya Pasokan Air Bendungan Pandanduri, Ribuan Hektar Lahan Menganggur di Lotim 

Foto : Volume air Bendungan Pandanduri Lotim menyusut drastis (Ruhael)

Lombok Timur – Dampak menipisnya pasokan air pada bendungan Pandanduri Lombok Timur (Lotim) Ribuan hektar lahan pertanian di wilayah Selatan Lotim, saat ini menganggur tidak bisa dimanfaatkan untuk bertani. Setelah berakhirnya musim tanam tembakau, sebagai besar lahan pertanian warga di wilayah Selatan ini dibiarkan menganggur begitu saja. Padahal pada tahun sebelumnya masih bisa dimanfaatkan, karena masih ada cadangan air yang tersisa di masing-masing bendungan.

Ribuan hektar lahan yang tidak bisa dimanfaatkan untuk bertani karena dampak kemarau terdapat di semua kecamatan di bagian selatan Lotim yaitu, wilayah Kecamatan Sakra, Sakra Barat, Keruak, Sakra Timur dan Jerowaru.
Kondisi tersebut telah terjadi sejak dua bulan, karena kondisi lahan pertanian yang kering kerontang, bahkan sebagian tanaman kacang-kacangan yang ditanam mengalami gagal panen.

“Sekitar dua bulanan air bendungan sudah tidak bisa sampai mengalir ke sini. Terpaksa, kita biarkan lahan menggangur seperti ini setelah selesai kita panen tembakau ” tutur Musti salah seorang petani asal desa Keruak Lotim.

Lanjut Musti, luas lahan pertanian garapan miliknya sekitar dua hektar lebih. Dijelaskannya, pola musim tanam tahun ini berbeda seperti tahun sebelumnya. Di tahun lalu, meski memasuki puncak musim kemarau, namun debit air bendungan masih bisa dipakai untuk bertani.

Bahkan ketika musim tembakau berakhir, para petani yang lahan pertaniannya mengandalkan sumber mata air dari dari Bendungan Pandanduri tetap bisa kembali bercocok tanam. Tetapi kondisi saat ini, jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, air bendungan lebih banyak yang mengering.

“Sebagian besar petani yang mengandalkan air dari bendungan Pandanduri saat ini terpaksa membiarkan lahannya terbengkalai sampai menuggu pasokan air dari bendungan bisa normal kembali,” singkatnya.

Hal sama juga dialami Suparlan petani Sakra Barat. Ia menjelaskan lahan pertanian miliknya seluas satu hektar lebih sudah tidak bisa ditanami sejak dua bulan lalu setelah panen tembakau. Air Bandungan Pandanduri yang menjadi andalan pasokan air untuk lahan pertanian mereka sudah tidak mengalir selama puncak musim kemarau.

“Kondisi air bendungan kan sudah sangat sangat menyusut sekali. Sekarang air bendungan hanya bisa mengaliri lahan pertanian terdekat saja. Ditengah keterbatasan air bendungan ini, kita tentunya di lokasi jauh seperti ini memang tidak memungkinkan untuk dijangkau. Kalaupun ada datang, itu pun endak tentu. Beda dengan sebelumnya, pasokan air bendungan ini hampir setiap hari mengalir,” imbuhnya.

Sementara itu, menanggapi persoalan ini, Kadis Pertanian Lotim, Sahri mengatakan, dirinya tidak membantah, ada ribuan hektar lahan pertanian masyarakat di wilayah Selatan Lotim menganggur setiap musim kemarau, terutama lahan pertanian yang mengandalkan air Bendungan Pandanduri. Kondisi saat ini, sebagain besar belum bisa ditanami kembali setelah berakhirnya musim tanam tembakau.

Kondisi seperti diakuinya hampir terjadi setiap tahun terutama disaat puncak musim kemarau seperti sekarang. Apalagi melihat kondisi debit air bendungan yang mengalami penurunan drastis.

Menurut, Sahri, ditengah kondisi seperti merupakan waktu yang efektif untuk mengistirahatkan lahan pertanian agar tidak terlalu lelah. Karena hal ini sangat baik untuk kesuburan tanah.

“Kalau lahan pertanian dipaksakan terus untuk ditanam itu kurang bagus, makanya disaat musim kemarau seperti sekarang, petani kita harus bisa mengatur pola tanam,” tutup Sahri.(RL)

CATEGORIES

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )