Dirut PDAM Anumerta Dayan Gunung Nilai Massa Aksi Salah Alamat Gelar Demonstrasi

Dirut PDAM Anumerta Dayan Gunung Nilai Massa Aksi Salah Alamat Gelar Demonstrasi

KLU – Direktur utama Perusahaan Umum Daerah Air Minum Anumerta Dayan Gunung, Firmansyah menilai massa aksi salah alamat dalam menggelar aksi demonstrasi. Kenaikan tarif air tidak dikeluarkan oleh PDAM melainkan oleh Gubernur dan Bupati KLU. Selain itu, tarif air di KLU dinilai terlalu rendah sehingga dikhawatirkan akan membuat perusahaan bangkrut.
Firmansyah pun mengundang perwakilan massa berdiskusi dengan pihaknya, terkait aksi demonstrasi yang sedang berlangsung di depan kantornya.
Ia enggan menemui massa aksi dan lebih memilih meminta perwakilan massa untuk menggelar diskusi dengan pihaknya didalam kantor. Namun keinginannya itu ditolak massa aksi sehingga aksi demonstrasi menuntut pencabutan kebijakan kenaikan tarif air minum tak menemui kata sepakat.
Dalam diskusi nya dengan massa, Firmansyah menilai aksi demonstrasi yang dilakukan dua LSM itu salah alamat. Karena menurut Firmansyah, kebijakan menaikkan tarif air minum bukan diputuskan oleh direktur PDAM melainkan keputusan gubernur dan bupati melalui perundang undangan yang berlaku.
“Kebijakan menaikkan tarif air minum bukan diputuskan oleh direktur PDAM melainkan keputusan Gubernur dan Bupati melalui perundang-undangan yang berlaku. Tarif batas atas dan batas bawah Kabupaten se Nusa Tenggara Barat itu rata-rata semua kabupaten/kota di NTB Ini adalah Rp.8.735. Masing-masing kabupaten berbeda-beda dari bawah ke atas bawahnya itu tergantung dari kemampuan daerah masing-masing,” papar Firmansyah.
Ditambahkan Firmansyah, kenaikan tarif air minum sebesar 40 persen yang diberlakukan awal tahun 2022 itu didahului dengan berbagai kajian. Salah satu kajiannya menurut Firmansyah adalah kemampuan masyarakat KLU yang dinilainya sudah tinggi untuk membayar air minum Rp. 2.000 hingga Rp. 3.800 rupiah setiap meter kubiknya. Angka itu menurutnya masih dibawah ambang batas minimum tarif air minum yang telah ditetapkan gubernur NTB yakni sebesar Rp. 4.094 rupiah hingga Rp. 8.735 rupiah per meter kubik.
Rendahnya tarif air minum di KLU menurut Firmansyah, dikhawatirkan akan menjadi pemicu sakitnya sebuah perusahaan daerah yang dipimpinnya. Ia pun mencontohkan PDAM Bima yang saat ini kolap gara-gara menerapkan tarif air minum yang sangat rendah sehingga tidak mampu menutupi biaya produkai perusahaan.(shd/klu)

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )