Gamers Kepincut Mataram Creative Center,  Baihaqi: Ibu Diyah Ujung Tombak Sedot Anggaran Pusat 

Gamers Kepincut Mataram Creative Center, Baihaqi: Ibu Diyah Ujung Tombak Sedot Anggaran Pusat 

Mataram – Bakal Pasangan Calon (Paslon) H Baihaqi-Hj Baiq Diyah Ratu Ganefi (BARU) berulang kali dalam debat publik Calon Wali Kota (Cawali) dan Wakil Wali (Cawawali) Kota Mataram memaparkan tentang Mataram Creative Center. Gagasan ini rupanya memancing rasa ingin tahu publik seperti apa gambaran pelaksanaan nanti.
Salah satu gamers yang ada di Mataram, Luvani Enggarlevita tertarik ingin mengetahui gagasan ini lebih dalam. “Karena dibilang ada e-sport, jadinya tertarik pengen tahu,” katanya, kemarin (19/11).
Remaja penyuka game PUPG mobile itu melihat gagasan BARU memberi angin segar bagi para penyuka games di ibu kota. “Teman-teman penyuka game Mobile Legend, ep-ep (Free Fire), memang sering dibuat bingung,” ungkapnya.
Kebingungan itu ada pada perbedaan pandangan antara orang tua dengan anaknya. “Orang tua pengennya kita sekolah yang bener, nggak main game mulu,” ulasnya.
Tapi Luva yakin para gamers punya masa depan cerah. Banyak yang bermain game di luar sana mendapatkan pundi-pundi kekayaan dari games. “Mereka jadi Content Creator sampai ketemu jodoh dari game,” ujarnya sembari tertawa.
Sementara itu, Calon Wali Kota Mataram nomor urut 4 H Baihaqi menjelaskan para pelaku industri kreatif memang auto pilot selama ini di Kota Mataram “Ini sektor yang saat ini tumbuh subur tapi pemeritah agak lamban memberi perhatian,” katanya.
Aqi mencontohkan para penyuka seni grafiti atau mural. “Mereka sangat banyak, tapi apa pemerintah sudah memfasilitasi pengembangannya? Saya fikir belum,” ulasnya.
Begitupun di bidang Content Creator, Gamers, Content youtube, perancang aplikasi google play dan lain sebagainya. “Menurut BEKRAF subsektor Industri Kreatif saja sampai 16 jumlahnya,” terangnya.
Diantaranya Aplikasi dan Pengembangan Permainan, Arsitektur, Desain Produk, Fashion, Desain Interior. Lalu ada Desain Komunikasi Visual (DKV), Seni Pertunjukan, Film animasi dan Video, Fotografi, Kriya, Kuliner, Music.
Berikutnya Periklanan, Penerbitan, Seni Rupa, terakhir Televisi dan Radio. “Dan saya melihat semua subsektor ini ada potensinya di Mataram,” ulasnya.
Lalu seperti apa Mataram Creative Center itu? “Begini, di tepi batas selatan kota ini ada sebuah bangunan besar itu adalah Bale Budaya,” katanya.
Bangunan berukuran 48 x 48 meter dan berdiri di lahan seluas 8 hektare itu akan dijadikan sebagai landmark Mataram Creative Center. “Tapi sebelum itu bangunan yang berdiri di atas RTH pagutan itu harus dituntaskan pembangunanya,” ujarnya.
Aqi mengatakan persoalan Bale Budaya tidak tuntas karena anggaran dari pusat disetop. Sedangkan Pemkot Mataram berat menggunakan APBD-nya. Anggaran penuntasan Bale Budaya karena postur anggaran APBD tengah seret-seretnya. Apalagi setelah PAD Kota Mataram anjlok oleh pandemi Covid-19.
Karena itu, anggaran penutasan Bale Budaya tetap akan diperioritaskan dari bantuan pemerintah pusat. Caranya? “Ibu Diyah Ratu Ganefi akan jadi ujung tombak atau negosiator kita di pusat,” katanya.
Mengapa Ibu Diyah? “Begini. Beliau mantan senator NTB dan sangat mengetahui seluk beluk anggaran di kementerian pusat,” ungkapnya.
kepiawaian ibu Diyah dalam lobi anggaran pusat juga diungkapkan Aqi sebagai salah satu alasan memilihnya sebagai calon wakil wali kota. “Jadi bukan semata-mata saya pilih beliau karena populer, gunanya populer di daerah tapi tidak punya jaringan di pusat?” ulasnya.
Keputusan berpasangan dengan Mantan DPD RI dua periode itu atas alasan jangka panjang pembangunan di Kota Mataram. Sekaligus menugaskan — bila terpilih — melobi anggaran pusat menuntaskan berbagai proyek mangkrak di Kota Mataram. “Dengan keahlian beliau kita tuntaskan Bale Budaya,” tegasnya.
Perlu diketahui meminta anggarna pusat tak semudah membalik telapak tangan. “Ada 514 kabupaten/kota di Indonesia melakukan langkah sama memburu anggaran di sana,” terangnya.
Sedangkan di pusat hanya ada 34 kementerian. “Bisa dibayangkan betapa sengit lobi-lobi antar daerah, tidak mungkin bisa dapat banyak tanpa punya negosiator yang punya jaringan kuat,” ujarnya.
Setelah anggaran pusat didapat untuk selesaikan Bale Budaya, berikutnya pelaku industri kreatif dikumpulkan di sana. “Kita sipkan fasilitas yang mendukung kemudian kita kumpulkan semua di sana,” ulasnya.
Aqi mengatakan mengumpulkan mereka sebagai langkah membangun ekosistem para pelaku industri kreatif. “Dengan ekosistem mereka bisa kuat dan bergerak bersama,” terangnya.
Dari pelaku industri keatif tradisional seperti seni karawitan, rudat, gamelan, sampai industri kreatif modern seperti industri digital, gamers, hingga content creator. “Dengan ekosistem mereka tidak akan terganggu oleh cibiran orang yang tidak percaya industri kreatif bisa berkembang di Kota Mataram,” tegasnya.
Semua penyuka industri kreatif akan dijadikan satu. “Dari semua suku, seperti Sasak, Samawa, Mbojo, Jawa, Madura, Bali Sunda, Batak, dan lain sebagainya,” jelasnya.
Bale Budaya dengan Mataram Creative Center nantinya diharapkan menjadi spirit atau wajah ibu kota. “Karena dari sana saya akan memulai gagasan besar tentang perda Identitas yang belum dipunya Kota Mataram sampai saat ini,” pungkasnya.

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )