Kenaikan Tarif Diprotes PDAM, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Kenaikan Tarif Diprotes PDAM, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

KLU – Aksi dua lembaga swadaya masyarakat di KLU yang terus menentang kebijakan perusahaan daerah air minum setempat yang menaikkan tarif pemakaian air yang diklaim sepihak. Aksi penolakan itu akan terus mereka lakukan hingga salah satu dari tuntutan mereka dikabulkan, yakni harga air turun atau direktur perusahaan yang turun dari jabatanya.
Dalam keterangan persnya, pentolan LSM itu bahkan menuding pemda klu telah berbohong karena menyebut dasar kebijakan tarif air itu adalah peraturan gubernur. Mereka beranggapan jika menaikan tarif air adalah murni kemauan bupati untuk meningkat pendapatan asli daerah.
“Data dari mana itu?, dari Kemendagri juga tidak ada itu menekan kenaikan tarif, tetapi munculnya kenaikan tarif itu dari Perbup,” tandas Wira Maya Arnandi, Koordinator LSM Surak Agung KLU.
Tentu saja tudingan itu dibantah oleh Perusahaan Daerah Air Minum Amerta Dayan Gunung dengan menunjukan dasar hukum pengambilan kebijakan itu. Sembari menunjukan surat keputusan gubernur NTB bernomor 690-579 tahun 2021, Firmansyah memaparkan tarif batas atas dan tarif batas bawah harga air di seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat, dan Kabupaten Lombok Utara ada diperingkat kedua dengan tarif ambang batas atas sebanyak Rp. 8.735 per 1 m³ dan ambang bawah sejumlah Rp. 4.094 per 1 m³.
“Setiap kabupaten/kota di NTB ini, masing-masing mempunyai batas atas dan batas bawahnya. Tergantung kemampuan dan efisiensi perusahaan masing-masing daerah. Tingginya pembayaran saya meyakini karena pemakaian yang berlebih,” ujarnya.
Sama dengan daerah lainnya, konsumen PDAM Amerta Dayan Gunung juga diklasifikasi menjadi kelas 2 pelanggan. Dari kelas sosial umum yang tarifnya saat ini Rp.2.000 per m³ dan meningkat Rp. 1.000 setiap pemakaian diatas 10 m³ hingga kelas pelanggan khusus yang tarif airnya Rp.7.000 per 1 m³ .
Firmansyah, direktur PDAM Amerta Dayan Gunung memastikan jika tarif air terbaru itu tidak tergolong mahal jika dibandingkan kemampuan dan daya beli masyarakat dayan gunung. Tarif yang ditetapkan menurutnya jauh dari ambang batas bawah yang telah ditetapkan oleh pemerintah Propinsi NTB. Bahkan ia menduga, melonjaknya tagihan air karena disebabkan tingginya pemakaian air yang dilakukan konsumen.
Jika demikian, bagi masyarakat konsumen PDAM KLU yang ingin tagihan airnya tidak melonjak terlalu tinggi yang harus dilakukan adalah menghemat penggunaan air. Atau jika mau lebih ekstrim, pelanggan bisa memohonkan untuk penurunan golongan tarif ke kantor PDAM Amerta, tentunya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Asalkan tidak mengikuti himbauan massa aksi yang mengajak masyarakat untuk memboikot PDAM Amerta dengan tidak membayar tagihan PDAM karena akan berdampak pada pencabutan meter air pelanggan oleh PDAM Amerta.(shd/klu)

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )