KONSEPSI Kembangkan Model Kerjasama PRB Antar Desa di 5 Desa
Poto:Tiga Kepala Desa menandatangni MoU kerjasama Pengelolaan Risiko Bencana antar desa, yakni Desa Akar-Akar, Desa Andalan, dan Desa Gunjan Asri. Ketiga desa berlokasi di Kecamatan Bayan, Lombok Utara

KONSEPSI Kembangkan Model Kerjasama PRB Antar Desa di 5 Desa

Mataram – Kompleksnya ancaman dan risiko bencana di Provinsi NTB mengharuskan antar wilayah di satu kawasan untuk bersama-sama mengembangkan pengelolaan risiko bencana.

Sebanyak lima desa di Pulau Lombok menjadi lokasi pengembangan model kerjasama Pengelolaan Risiko Bencana (PRB) antar desa yang diinisiasi oleh KONSEPSI NTB. Tiga desa berlokasi di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, yakni Desa Akar-Akar, Desa Gunjan Asri dan Desa Andalan. Sedangkan dua desa lain berlokasi di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur yakni Desa Obel-Obel dan Desa Madayin.

Untuk menandai dimulainya agenda tersebut, KONSEPSI memfasilitasi pertemuan para pihak mulai tingkat desa sampai kabupaten yang ditandai dengan penandatangan nota kesepahaman antar para kepala desa sebagai bentuk tertulis niat bekerjasama. Pertemuan pertama berlangsung di Desa Akar-Akar, Kecamatan Bayan pada Selasa, 16 Maret lalu.

Seperti dijelaskan Hairul Anwar, Manager Program KONSEPSI, pengembangan kerjasama PRB antar desa itu merupakan salah satu bagian implementasi kerangka kerja proyek Desa Tangguh Bencana yang sedang dilaksanakan KONSEPSI atas dukungan pendanaan dari Caritas Germany. “Kami berharap lima desa yang menjadi model itu akan menghasilkan pembelajaran penting bagaimana antar desa dapat bekerjasama mulai dari perencanaan bersama sampai dengan pembiayaan bersama dalam mengelola ancaman dan risiko bencana. Sehingga pengalaman mereka dapat dicontoh dan dikembangkan oleh desa-desa lain di Provinsi NTB,”katanya.

Seperti diketahui, BPBD Provinsi NTB telah lama merilis sebagian besar desa-desa di seluruh NTB tergolong rawan bencana baik alam maupun non alam dengan ancaman dan risiko mulai level menengah sampai tinggi. Jika ditelusuri lagi, fakta lapangan mengungkapkan antara desa satu dengan desa lain memiliki keterkaitan menyangkut proses kejadian bencana. Ada desa yang menyebab bencana namun dampkanya juga dialami oleh desa tetangga, atau antara desa satu dengan yang lain memiliki kesamaan ancaman dan risiko bencana.

Selama ini, orientasi kerjasama antar desa lebih didorong pada usaha meningkatkan produktivitas ekonomi kawasan. Padahal pengurangan risiko bencana antar desa merupakan upaya antisipatif yang penting. Bila dua agenda itu dibangun secara sinergis akan memungkinkan kawasan tersebut menjadi lebih tangguh. “Untuk memaksimalkan pengelolaan risiko bencana tidak bisa lagi berbasis ruang dan administratif belaka. Ke depan, kerjasama antar desa juga untuk menghindari adanya tumpang tindih kebijakan dan penanggulangan bencana,”tegas Hairul.

Secara terpisah, agenda kerjasama PRB antar desa ini disambut positif oleh para kepala desa yang menjadi lokasi percontohan. Menurut Akarman, Kepala Desa Akar-Akar Kecamatan Bayan, Lombok Utara, pemerintah desa sangat antusias dan menyadari pentingnya kerjasama antar desa untuk PRB. “Kami juga ingin belajar bagaimana cara melakukan kerjasama dengan desa lain untuk pengelolaan isu bersama di satu kawasan karena pada dasarnya satu desa dengan desa lain karateristik masalah relatif sama,”katanya.

Hal senada juga diungkapkan Satrasip, Sekretaris Desa Obel-Obel Kecamatan Sambelia Lombok Timur. “Antara Desa Obel-Obel dengan Desa Madayin dalam menangani banjir bandang yang sering menimpa dua desa masih menjadi urusan desa masing-miasng. Padahal kedua kawasan selalu menerima dampak yang sama,”katanya.

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )