Masyarakat NTB Kecam Menag, TGB : Jangan Hanya Membatasi Masjid

Masyarakat NTB Kecam Menag, TGB : Jangan Hanya Membatasi Masjid

Mataram – Masyarakat Nusa Tenggara Barat, khususnya pulau seribu masjid mengecam keras pernyataan menteri agama Yaqut Kholil Qoumas, yang diduga menistakan seruan adzan. Masyarakat NTB meminta menteri agama itu diproses secara hukum serta meminta maaf kepada ummat islam. Sementara itu, tokoh sekaligus ulama terkemuka NTB Tuan Guru Bajang Muhàmmad Zainul Majdi meminta menteri agama tidak membuat peraturan yang hanya diperuntukan untuk ummat islam. Segenap masyarakat nusa tenggara barat khususnya pulau seribu masjid mengecam dengan keras pernyataan menteri agama yang diduga menistakan agama dengan melecehkan suruan adzan. Seperti sikap yang ditunjukkan masyarakat Karang Taliwang Cakranegara. Segenap tokoh menyerukan agar Yaqut Koumas diproses secara hukum karena diduga telah menistakan agama islam dengan memisalkan seruan adzan dengan gonggongan anjing.
“Kami masyarakat Karang Taliwang mengecam pernyataan menteri agama yang menyamakan suara azan dengan gonggongan anjing,” kecam tokoh agama dan masyarakat dalam pernyataan bersama.
Selain mengecam dan meminta kepolisian mengusut dugaan penistaan agama yang dilakukan menteri agama RI itu, masyarakat Karang Taliwang juga mendesak menteri Yaqut untuk meminta maaf kepada seluruh umat islam.
Sementara itu, ulama sekaligus mantan gubernur NTB dua periode, Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi seusai menghadiri pengajian di salah satu masjid di Lombok Timur angkat bicara terkait surat edaran menteri agama tentang pembatasan suara azan.
Menurut TGB, panglima banser itu telah mengabaikan asas imparsialitas dalam membuat kebijakan publik. Bahkan TGB menyarankan menteri agama untuk membuat aturan yang tidak hanya mengatur pengeras suara dimasjid atau mushalla saja melainkan disetiap rumah ibadah.
“Kalau memang mau membuat satu surat edaran untuk mengatur penggunaan pengeras suara di rumah ibadah. Itu jauh lebih baik tidak menyangkut masjid dan mushola tapi rumah ibadah, sehingga tidak kemudian menciptakan kesan bahwa seakan-akan yang berpotensial mengganggu ketenangan ketentraman itu hanya suara yang keluar dari masjid dan mushola,” ujar TGB.
Ditambahkan TGB, bahwa, di beberapa daerah di Indonesia khususnya Lombok dan NTB pada umumnya telah menjadikan masjid tidak hanya tempat sholat dan mengaji melainkan pusat kegiatan sosial kemasyarakatan. Suara yang keluar dari pengeras suara masjid dan mushalla pun menurut TGB tidak hanya suruan adzan, pengajian dan ibadah-ibadah lain melainkan pengumuman-pengumuman yang bersifat duniawi juga datang melalui pengeras suara masjid. Sehingga surat edaran menteri agama RI itu dinilainya kurang tepat.(shd/mtr)

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )