Memandikan Jenazah Ditunda Akibat Tidak Ada Air

Memandikan Jenazah Ditunda Akibat Tidak Ada Air

Lombok Barat- Sebanyak empat dusun yang ada di desa Batu Layar yakni, Dusun Penanggak, Penanggak Timur, Apit Aik dan Paok Lombok, termasuk dalam daerah yang menjadi langganan kekeringan setiap tahunnya.

Bahkan kejadian yang sungguh memilukan saat ada seorang warga Penanggak yang meninggal, jenazahnya terpaksa harus diinapkan semalam sebelum dimakamkan karena kurangnya ketersediaan air bersih yang bisa digunakan untuk memandikan jenazah. Warga berupaya dengan bergotong royong untuk mengambil air yang akan digunakan memandikan jenazah.

“Bahkan saat ada musibah, seperti kemarin ada orang meninggal, di sini kami swadaya. Masing-masing warga akan membawakan sama-sama satu atau dua jerigen air yang dibawakan ke sohibul musibah” ungkap Dedy Zulhandi, salah seorang warga yang ditemui ketika sedang turun mengambil air di dalam hutan di wilayah Lobar, Rabu (26/08/2020).

Ia mengatakan bahwa hal ini tidak hanya terjadi saat ini saja, tetapi ini adalah permasalahan yang telah terjadi bertahun- tahun lamanya. Di mana dusun mereka akan selalu kekeringan dan kekurangan air bersih setiap musim kemarau.

Masyarakat yang berada di kawasan dataran tinggi yang ada di wilayah Batu Layar ini rata-rata telah menyiapkan penampungan air di sekitar rumahnya. Yang mana penampungan air ini hanya dibuat menggunakan terpal dan air hujan yang ditampung menggunakan talang itu pun tidak bisa bertahan lama.

“Akan tetapi tampungan atau waduk yang kita buat dari terpal ini tidak mampu bertahan lama. Itu pun kita menggunakan talang dan yang ditampung itu pun air hujan” imbuhnya.

Air tampungan tersebut, sambungnya, tidak bisa disimpan dan dimanfaatkan saat musim kemarau. Karena biasanya, awal musim kemarau, air tampungan warga justru sudah lebih dulu habis karena untuk mencukupi kebutuhan air bersih sehari-hari.

“Kita di sini baru bangun tidur langsung memikirkan bagaimana caranya mengambil air, setelah itu baru bisa mikirin pekerjaan yang lain” tuturnya.

Bahkan saat air di penampungan mereka habis, warga di Dusun Penanggak harus rela membeli air yang satu jerigennya seharga Rp25.000 demi untuk mencukupi kebutuhan air bersih.

“Sehingga kami berharap pemerintah dapat membantu kami yang ada di wilayah perbukitan ini untuk menyelesaikan masalah kekeringan ini” harapnya.

Menanggapi permasalahan tersebut, H. Taufik selaku Kades Batu Layar saat ditemui di kantornya (26/08/2020) menyebutkan bahwa pihak desa telah berupaya untuk mengajukan program sumur bor. Baik itu ke pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan juga pemerintah kabupaten Lombok Barat. Dimana usulan tersebut katanya, sudah pernah mendapatkan respon.

“Terkait ini, pernah kami direspon, cuman sayangnya karena terlalu dalam untuk dibor. Sehingga kita tidak bisa mengebor tepat di ke-empat dusun itu. Jadi kita taruh agak ke bawah yaitu di dusun Kekeran” jelasnya.

Selain itu, terkait dengan proses pengiriman air, hal itu dinilai terlalu berat untuk dinaikkan ke empat dusun yang ada di dataran tinggi Batu Layar tersebut. Sehingga, H. Taufik menyambungkan, ketika upaya pengiriman air tersebut dicoba, justru pipa dan alat penembak yang digunakan jebol.

“Pada tahun ini kita anggarkan untuk perbaikan itu, tapi karena corona anggaran itu dicoret” ungkap Kades Batu Layar ini.

Untuk membantu memenuhi air bersih warga dusun Penanggak, H.Taufik menyebutkan bahwa pihak desa pernah bersurat kepada Damkar dan ke Polres untuk meminta bantuan air. Sehingga dusun yang kekeringan di Batu Layar mendapat bantuan air bersih yang dikirimkan menggunakan 10 tangki.

Tetapi yang menjadi masalah katanya, mobil tangki tersebut tidak dapat naik dengan muatan air full hingga ke dusun Penanggak.

“Tangki ini kalau full tidak bisa naik sampai ke Penanggak, jadi harus diberikan kepada dusun yang ada dibawah dulu setengah, biar tangki ini bisa naik” imbuhnya.

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )