Ngabuburit Ala Penghafal Al-Qur’an di Desa Meninting

Ngabuburit Ala Penghafal Al-Qur’an di Desa Meninting

Lombok Barat– Kalau di tempat lain, ngabuburit (poroq-poroq anteh bebuka) identik dengan aktifitas jalan-jalan, nongkrong-nongkrong dan semacamnya, tapi tidak demikian dengan para penghafal qurán (hafiz) yang ada di Desa Meninting. Mereka sudah diarahkan ngabuburit dengan cara tersendiri oleh Kades Meninting, H. Iskandar Zulkarnain, SH.
Mulai awal pekan kedua bulan puasa ini, di semua masjid yang ada di Desa Meninting dilaksanakan program Meninting Mengaji. Ada lima masjid di Desa Meninting yakni Masjid Dusun Nurussyuhada Montong Buwuh, masjid Al-Ikhlas Dusun Tegal, masjid At-Taqwa Dusun Pelempat, dan masjid Dusun Peresak serta Dusun Kongok.
Kegiatan ini sendiri mulai dilaunching oleh Kades Meninting H. Iskandar Zulkarnain pada Sabtu (17/4) lalu di Masjid Al-Ikhlas Dusun Tegal Desa Meninting. Untuk di masjid ini sendiri pesertanya banyak berasal dari anak-anak setempat yang sekolah di Ponpes Al-Muslimun NW Tegal.
Sementara itu di masjid yang ada di empat dusun lainnya diwajibkan mengumandangkan suara anak dan remaja setempat mengaji dengan pengeras suara mulai pukul 17.00 hingga menjelang berbuka puasa. Jadi, suara radio dan kaset kini berganti dengan suara ngaji asli oleh anak dan remaja kampung setempat.
Pada awal pelaksanaan kegiatan tersebut, Kades H. Iskandar turun sendiri berkeliling ke 5 masjid dusun untuk memastikan programnya ini dilaksanakan oleh masing-masing kepala dusun. Meski dalam kondisi hujan lebat, ia terus memantau kegiatan ini. Dan memang, antar satu masjid dengan masjid kampung lainnya terdengar suara ngaji bersahutan. Meninting pun menjadi ramai oleh suara mengaji.
Untuk dimaklumi bahwa anak dan remaja yang mengaji ini bukan anak sembarangan. Mereka terdiri dari para penghafal Quran yang ada di masing-masing dusun. Sejak sebulan sebelumnya dilakukan pendataan jumlah penghafal quran di masing-masing dusun yang ada di Meninting. Hasilnya, dari tiap dusun ditemukan belasan penghafal Quran dengan variasi jumlah juz yang dihafal. Anak-anak inilah yang kemudian diberikan giliran untuk mengaji selama 1 jam di masing-masing.
Tiap hari di masing-masing dusun ada 1 anak mengaji 1 juz yang mereka hafal. Esoknya bergiliran dengan penghafal yang lain. Jumlah penghafal ini ternyata cukup banyak.
“Dari sinilah kita tahu bahwa di desa kita ternyata banyak penghafal. Untuk program ini, mereka kita berikan insentif Rp 50 ribu selesai mengaji. Ini akan berlangsung selama 21 hari sampai Ramadhan usai,” ujar H. Iskandar.
H. Iskandar mengatakan, dirinya sudah menganggarkan dari dana desa untuk memberikan insentif bagi penghafal yang mengikuti kegiatan ini. Tidak itu saja, nantinya pada acara Nuzulul Quran akan diberikan santunan kepada para penghafal di masing-masing dusun dengan katagori menghafal 2 juz sampai 30 juz. Selain katagori tersebut, yang akan diprioritaskan adalah para penghafal dari ekonomi menengah ke bawah, baik anak, remaja, dewasa maupun orang tua.
“Tapi untuk kegiatan ngaji sore selama Ramadhan ini, bebas dari semua katagori,” ujarnya.
Selain penghafal, akan diberikan pula insentif dan santunan kepada para ustad yang menyimak kegiatan ngaji sore Ramadhan ini.
Namun demikian H. Iskandar mengingatkan ke semua dusun, agar jangan sampai mengimport hafiz dari luar dusunnya. Hafiznya harus dari anak dusun setempat. Ini untuk pancingan kepada semua orang tua agar mendidik anaknya membaca quran dan bila perlu jadi penghafal.
Iskandar juga berjanji tahun depan insentif ini akan ditingkatkan. Kalau sekarang baru bisa memberikan Rp 50 ribu per anak, tapi tahun depan ia berjanji akan meningkatkan. Bila perlu dapat sama 100 ribu.
“Kita jangan pelit. Kalau kursus Bahasa Inggris kita berani bayar 250 ribu, kenapa kepada para penghafal quran kita tidak berani bayar lebih mahal. Menghafal quran itu melelahkan lho,” pungkasnya.

CATEGORIES
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )