Sambut Lailatur Qadar, Warga Nyalakan Lampu Jojor

Sambut Lailatur Qadar, Warga Nyalakan Lampu Jojor

Pada malam ganjil di 10 hari terakhir pada bulan Suci Ramadhan, sebagain besar masyarakat di Nusa Tenggara Barat menggelar tradisi malaman.
Seperti yang di lakukan oleh warga Warga Dusun Dasan Tebu Desa Ombe Baru Kecamatan Kediri Lombok Barat. Ratusan warga menyambut malam lailatul qadar dengan membakar lampu yang disebut dile jojor.
Mereka masih melestarikan tradisi maleman dengan berziarah kekuburan dan menyalakan seribu lampu, yang oleh warga setempat menyebutnya dile siu atau dile jojor.
Lampu Dile Siu atau Dile Jojor ini, terbuat dari bahan bakar minyak buah jarak atau buah camlung dengan sumbu kapas yang di buat secara tradisional oleh masyarakat. Tradisi itu sudah di lakukan sejak turun temurun dari nenek moyang mereka. Ridwan, salah satu warga setempat mengatakan, tradisi malaman ini biasa dilakukan pada malam ke 21 hingga malam ke 29 Ramadhan, usai sholat magrib atau usai berbuka puasa. Warga sibuk menyalakan dile siu atau dile jojor di makam atau di sudut rumah warga, untuk menyambut kedatangan malam lailatul qadar.
“Dari zaman nenek moyang memang sudah kebiasaan tradisi ini sering dilakukan di malam yang ganjil, tentu di dusun lain juga akan melaksanakan seperti ini, dari hari ke 23 ,25 sampai dengan 29 akhir Ramadhan,” ujar Ridwan
Tradisi maleman atau dile jojor ini dlakukan, karena di masa masa yang lalu tidak ada lampu, sehingga di pakailah penerang dengan dile jojor untuk penerangan, dengan tujuan ziarah makam dan mengingat para orang tua dan menghomati leluhur.(ham/lbr)

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )