Unik dan Sakralnya Lebaran Adat eks Kedatuan Bayan

Unik dan Sakralnya Lebaran Adat eks Kedatuan Bayan

KLU – Lebaran adat di lingkup Eks Kedatuan Bayan digelar unik dan khidmat serta diikuti oleh segenap lapisan masyarakat. Secara umum, lebaran adat atau biasa disebut lebaran tinggi atau lebaran berik di beberapa komunitas adat di Eks Kedatuan Bayan digelar pada tanggal 3 atau 4 Syawal setiap tahunnya.
Seusai menggelar hari raya idul fitri 1 syawal 1447 hijriah, masyarakat adat yang ada di Eks Kedatuan Bayan seperti di Desa Anyar, Desa Sukadana, Desa Loloan, Desa Bayan dan sekitarnya mulai mempersiapkan perayaan lebaran tinggi atau yang sering disebut lebaran berik atau lebaran kecil. Disebut lebaran kecil karena dirayakan berdasarkan penanggalan komunitas adat eks kedatuan bayan.
Berdasarkan penuturan Raden Apriadi, Ketua Majlis Krama Adat Wet Anyar bahwa perayaan lebaran adat tahun ini digelar disemua komunitas adat atau wet yang menjadi bagian wilayah Kedatuan Bayan.
“Masyarakat yang ada di luar Kedatuan Bayan terkadang dianggap ini adalah hal yang negatif, karena memang dianggap bahwa berbeda dari perayaan Hari Raya Idul Fitri secara umum. Yang kami lakukan itu pertama adalah mengikuti kalender ada, yang kedua yang kami kerjakan ini adalah sebagaimana yang ditinggalkan oleh leluhur kami sebagaimana juga yang diajarkan oleh para wali penyebar Islam terdahulu maka bagi kami masyarakat adat Bayan ini bukan hal yang negatif,” papar Apriadi.
Ditambahkan Raden Apriadi bahwa, sebelum menggelar lebaran adat, masyarakat akan mengumpulkan hasil panennya ke masing masing kiai atau ketua adat. Hasil panen berupa beras itu dikumpulkan sebagai zakat fitrah dan sebagiannya lagi sebagai bahan memasak untuk jamuan perayaan lebaran.
Masyarakat adat khususnya kaum perempuan akan berkumpul di bale loka untuk memasak dan membuat berbagai jenis jajanan yang nantinya akan disantap bersama sama dengan masyarakat.
Lebaran berik yang tahun ini jatuh pada hari kamis, 4 Syawal 1447 Hijriah digelar dengan penuh kekhusyuan. Tata cara sholat pada lebaran adat itu sama dengan sholat iedul fitri pada umumnya. Sehingga dengan alasan itu, masyarakat adat eks kedatuan bayan enggan dikatakan menggelar lebaran adat yang bertentangan dengan syariat Islam.
Seusai sholat, masyarakat sebagaimana kebiasaan pada idul fitri umumnya, akan menggelar halal bi halal, bersalam salaman, berkumpul dengan keluarga sambil menikmati makanan yang sudah disiapkan secara bersama sama.(shd/klu)

CATEGORIES
TAGS

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )